Menelisik Sejarah Gedung Geo Wehry di Kawasan Kota Tua Padang

Oleh : Ego Arianto

Pendahuluan

Tuan/Puan yang pernah berkunjung ke Kawasan Kota Tua Padang, tentunya telah menikmati suatu pemandangan yang menakjubkan. Deretan pertokoan modern, berdampingan dengan gedung-gedung warisan kolonial, membuat kawasan ini menjadi destinasi wisata banyak orang. Di sana ada puluhan gedung yang dapat dijadikan sebagai spot foto instagramable. Tak hanya itu, gedung-gedung tersebut memiliki nilai historis tinggi dan turut mempengaruhi perkembangan Kota Padang di kemudian hari. Salah satu dari sekian banyak gedung itu adalah Gedung Geo Wehry & Co (selanjutnya, untuk memudahkan pelafalan serta tanpa mengabaikan arti penting ‘& Co’, izinkan penulis untuk memakai ‘Geo Wehry’ saja–sebagaimana yang lazim diketahui publik).

Gedung Geo Wehry, Agustus 2022 (Sumber: Koleksi Pribadi)

Gedung Geo Wehry adalah gedung terbesar di Kawasan Kota Tua Padang. Tingginya mencapai 24 m dengan luas 840 m2. Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada tulisan yang mengulas latar sejarah, perkembangan, dan arti penting keberadaan gedung tersebut. Kalau pun ada, tulisan tersebut berkisah secara sekilas saja–dengan tujuan untuk menarik minat wisatawan dan keperluan pendeskripsian objek cagar budaya. Padahal, satu narasi utuh mengenai sejarah dan peran gedung ini amat dibutuhkan dalam kerangka pengembangan Kawasan Kota Tua Padang ke depan. Inilah yang menjadi tantangan.

Tulisan ini hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Untuk itu, dihadapkan kepada Tuan/Puan Pembaca sekalian, sejumlah pertanyaan pengantar berikut. Mengapa gedung terbesar di kawasan kota tua ini dinamai Geo Wehry? Siapakah tokoh di balik pembangunan gedung itu? Bagaimanakah arti penting keberadaan Firma Geo Wehry bagi penduduk Kota Padang? Pada bagian ini, penulis akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan penekanan waktu masa kolonial. Tulisan lanjutan dengan periode waktu era kemerdekaan akan disampaikan pada bagian lain. Selamat membaca.

Firma Geo Wehry

Geo Wehry adalah salah satu dari lima firma atau perusahaan ekspor-impor terbesar di Hindia-Belanda (Indonesia) pada masa kolonial. Produk-produk impor firma ini cukup beragam, mulai dari minuman, makanan, hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Sejak tahun 1910, Geo Wehry memperluas usahanya dengan mengambil alih bisnis HVA (Handelsvereeniging Amsterdam) serta mengekspor hasil perkebunan seperti teh, kina, karet, tembakau dan kopi. Bondan Kanumoyoso (2001: 24) mencatat bahwa firma ini memiliki 28 perkebunan di Hindia-Belanda. Tak berhenti sampai disitu saja, Firma Geo Wehry juga terlibat dalam usaha eksplorasi minyak bumi hingga ekspor kulit banteng. Surat kabar De Indische Courant (1928) menurunkan berita tentang pendirian dan perkembangan Firma Geo Wehry.

(Sumber: De Indische Courant, 21 Mei 1928)

Geo Wehry didirikan pada 21 Oktober 1867 oleh Georges Wehry–bersama seorang rekannya, C. Frolke. Beberapa tahun sebelum firma ini berdiri, sudah dibentuk pula firma Wehry-Wille. Sayangnya, sudah tidak ditemukan lagi akta pendirian terkait firma tersebut. Sejak tahun 1850, Georges Wehry telah tertarik untuk memperluas jaringan bisnisnya di Hindia-Belanda. Namun, karena kesibukannya di Eropa, ia menyerahkan pengelolaan firma di Hindia-Belanda kepada rekanan dan puteranya.

Firma ini tercatat memiliki 11 kantor yang tersebar di berbagai kota, yaitu Batavia (didirikan 1867, sekaligus sebagai kantor pusat), Surabaya (1871), Cirebon (1891), Semarang (1899), Cilacap (1899), Padang (1911), Makassar (1917), Palembang (1919), Pontianak (1925), Banjarmasin (1927), dan Medan (1927).

(Ket: Berita tentang pembukaan kantor cabang Geo Wehry di berbagai kota di Hindia-Belanda. Sumber: De Locomotief, 21 Mei 1928)
(Ket: Pengumuman dibukanya kantor cabang Geo Wehry di Padang (1911). Sumber: De Sumatra Post, 27 Mei 1911)

Ghijsels: Sang Arsitek

Sejak tahun 1911, Firma Geo Wehry telah memulai usaha ekspor-impor produk di Padang. Hal itu terlihat dari banyaknya iklan di surat kabar setempat, baik surat kabar Belanda maupun surat kabar Melayu, yang memuat berbagai produk impor beserta alamat di mana pembeli bisa mendapatkannya. Bahkan, untuk beberapa produk tertentu, firma ini menjadi importir tunggal. Perkembangan yang begitu pesat mengharuskan firma untuk mengambil kebijakan: membangun satu gedung yang lebih besar yang dapat menampung persediaan produk dan untuk kepentingan bisnis perusahaan di masa depan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Firma Geo Wehry menggunakan jasa seorang arsitek ternama, Frans Johan Louwrens (F.J.L) Ghijsels. Ghijsels lahir di Tulungagung, 8 September 1882. Setelah menamatkan pendidikan di Technische Hogeschool Delft, ia kemudian kembali ke Hindia-Belanda pada tahun 1910. Pada 1916, ia mendirikan Biro Arsitek AIA (Algemeen Ingenieur Architectenbureau) di Batavia. Selama tahun 1916-1929, Ghijsels menangani pekerjaan perencanaan bangunan di berbagai kota di Hindia-Belanda. Beberapa bangunan hasil rancangan Ghijsels dan AIA yang masih bertahan hingga kini antara lain Stasiun Kereta Api Jakarta (Beos), kantor Koninklijke Paketvaart Maatschappij (kini: Kantor Kementerian Perhubungan), kantor Freemason (kini: kantor BAPPENAS), dan Gedung Geo Wehry.

Ir. F.J.L Ghijsels. (Sumber: Akihary, 2006: 1)

Pada 1918, Biro Arsitek AIA mendapat proyek membuat rancangan untuk tiga kantor cabang Geo Wehry yang dilengkapi dengan gudang. Ketiga kantor cabang ini dibangun pada tahun 1919 dan 1920. Selain merancang, AIA juga menjadi penyelia konstruksi pada pembangunan dua kantor cabang Geo Wehry di Batavia. Sementara itu, pembangunan satu kantor cabang di Padang dilaksanakan oleh kontraktor lain (Akihary, 2006: 49). Deli Courant (1920) melaporkan bahwa pembangunan kantor baru Geo Wehry di Padang berada di bawah tanggung jawab Mr. Viersen. Lebih lanjut disebutkan bahwa upacara peresmian pertanda dimulainya penggunaan kantor baru itu dilaksanakan pada 6 November 1920.

Geo Wehry untuk Penduduk Kota

Gedung Geo Wehry sekitar 1920-an (Sumber: kidalnarsis.com)

Keberadaan Geo Wehry memiliki nilai penting dalam sejarah dan dinamika masyarakat Kota Padang. Selain mengimpor barang untuk memenuhi kebutuhan penduduk, Geo Wehry juga menjadi lembaga kreditur. Habib Gelar Soetan Maharadja dalam majalah Berniaga (1930) mencatat bahwa kantor ini menjadi tempat peminjaman uang bagi masyarakat yang membutuhkan. Setelah jatuh tempo, pinjaman dari Geo Wehry di Padang dapat dibayar melalui bank baik menggunakan cek maupun uang tunai. Sementara itu, surat kabar Sumatra Bode (1928) memberitakan bahwa Geo Wehry ikut serta menyediakan beberapa barang impor secara cuma-cuma sebagai hadiah undian atau lotre pasar malam, dan memfasilitasi hadiah bagi pemenang lomba dayung (roeiwedstrijden) di Batang Arau. Kegiatan yang disebut terakhir ini diselenggarakan oleh perkumpulan olahraga dayung Tionghoa (Chineesche Roeivereeniging).

Dapat dikatakan bahwa gedung Geo Wehry ini merupakan salah satu bangunan yang paling megah pada masanya. Kini, gedung yang berfungsi sebagai gudang PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) itu telah menginjak usia 100 tahun dan menjadi salah satu landmark Kawasan Kota Tua Padang.

Referensi

Akihary. 2006. Ir. F.J.L. Ghijsels: Architect in Indonesia (1910–1929). Utrecht: Seram Press.

Habib (Gelar Soetan Maharadja). 1930. Berniaga. Groningen: J.B. Wolters.

Kanumoyoso, Bondan. 2001. Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

De Indische Courant, 21 Mei 1928.

De Locomotief, 21 Mei 1928.

De Sumatra Post, 27 Mei 1911.

Deli Courant, 9 November 1920.

Sumatra-Bode,  25 Juni 1928.

Sumatra-Bode, 28 Desember 1928.

Tentang Penulis

Ego Arianto lahir di Solok, 17 Maret 1994. Saat ini bekerja sebagai analis sumber sejarah pada Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang. Menamatkan S-1 Sejarah di Universitas Negeri Padang (2016) dan tengah merampungkan studi magister pada Program Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang. Tulisan terbarunya, “Di Balik Rekonstruksi Rumah Kelahiran Bung Hatta,” dimuat dalam antologi feature Hatta: Role Model nan Role Player (Perpusnas Press, 2022). Penulis adalah pendiri komunitas literasi Geo Institute. Instagram: @ego.arianto.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: